translate

time is money...


The Widgipedia gallery
requires Adobe Flash
Player 7 or higher.

To view it, click here
to get the latest
Adobe Flash Player.
Get this widget from WidgipediaMore Web & Desktop Widgets @ WidgipediaMore Web & Desktop Widgets @ Widgipedia

Hidup di Negeri “Sangka Raja”

Diposting oleh Alian Suhendra On 03.42

(by: Raihan Albiruny)
Betapa nikmatnya jadi seorang Gubernur, tidak salah jika seorang anak bercita – cita jadi gubernur. Sangat nikmat memang jika kita lihat dari besarnya gaji yang diterima mencapai Rp. 20 juta-an belum lagi jumlah tunjangan dan fasilitas kemudahan yqng diberikan rakyat kepada para penguasa daerah ini. Hal ini tentu ironis dengan keadaan rakyat yang semakin hari semakin susah untuk membeli 1 liter beras buat makan 1 hari saja susah ataupun untuk sekedar lauk tempe tambah sambal terasi. Apalagi kalau mau beli helikopter rasanya itu tidak mungkin dilakukan rakyat miskin di daerah ini. Mereka hanya berpikir yang penting cukup makan dan sekolah. Nikmatnya jadi gubernur mer
upakan racun dan kuman yang menjadikan setiap orang bernafsu dengan kursi panas ini.tanpa malu – malu menyebutkan bahwa kepentingan yang diboncengi atau dengan dalih tujuan demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
Sudah selayaknya rakyat kecil yang dalam konstitusi UUD’45 Pasal 34 : Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Dan selayaknya sebagaimana azas keadilan dan kepentingan umum dalam konstitusi dasar negara ini. Pemerintah daerah memperhatikan kehidupan dan pelayanan yang layak bagi masyarakat kecil. Kemudian kenyataannya adalah biaya hidup yang tinggi pendidikan yang mahal dan pelayanan yang buruk menjadikan daerah ini semakin terbelakang dan tertinggal. Sehingga di cap sebagai daerah yang miskin. Kita tentu tidak menginginkan daerah ini disebut sebagai daerah yang miskin. Dengan bangganya kita menyebut negeri kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah, tetapi bukan rahasia lagi atau bahkan sudah biasa jika serang warga tanpa malu lagi dengan menyebutkan dirinya miskin demi mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) tidak seberapa memang uang Rp.300 ribu yang didapat jika dibandingkan dengan korupsi pejabat kita belumlah seberapa. Suatu hal yang dirasakan membantu potret lain misalnya penerimaan zakat yang kisruh menimbulkan korban jiwa dan nyawa yang hilang hanya demi uang Rp. 30 ribu. Atau pembagian daging kurban yang ricuh hanya demi setengah kilogram daging. Sangat miris memang jika kita melihat masyarakat yang berjuang demi kelangsungan hidupnya. Sementara para penguasa malah asyik dan enak – enakan duduk di kursi yang digaji oleh rakyat.
Provinsi bengkulu yang letaknya di bagian barat negeri ini, sebuah daerah tertinggal yang meskipun di Indonesia bagian barat, tetapi kesejahteraan sama dengan Indonesia bagian timur. Daerah ini sudah miskin malahn menjadi ladang subur bagi tumbuhnya budaya kemerosotan moral berupa korupsi dari mulai tingkatan kepala daerah sampai ke ketua RT semuanya sudah terkena virus korupsi dan kuman dunia.
Seorang gubernur memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang besar bagi terwujudnya masyarakat yang adil dsn sejahtera. Barangkali bagi penguasa kita seorang gubernur malah menjadi “raja” yang istrinya menjadi ratu dan seluruh keluarganya menjadi pangeran daerah. Dengan disanjung seakan daerah ini sudah dapat digenggam dengan tangan kirinya dan tangan kanannya bergantung pada kepentingan pada tingkatan yang lebih tinggi. Sungguh memalukan bagi masyarakatnya ketika para keluarga sang raja mencari nama dan memanfaatkan peluang mencari kedudukan. Tak segan dan tak tahu malu membuat kebohongan publik demi popularitas dan kesenangan semata tanpa memperdulikan nasib rakyat kecil yang semakin tertindas.
Amanah yang diberikan rakyat kepada para penguasa kita telah menjadikan mereka buta dan mereka terlena akan kenikmatan dunia. Mata hati mereka telah tertutup dan pendengaran mereka telah tersumbat. Seruan dari teman – teman mahasiswa dan LSM tidak lagi mereka dengar. Hingga berpuluh – puluh kali para aktivis pembela rakyat ini menuntut penuntasan kasus – kasus korupsi maupun permasalahan lain. Tanpa lelah menyuarakan kebenaran dan keadilan, namun tidak satu pun segera ditanggapi. Ditambah dengan sedikit bumbu pemberitaan media lokal yang penuh tanda tanya keindependenannya.
Kebohongan yang ditimbulkan menusuk pemikiran rakyat dan inilah doktrin – doktrin yang bualannya sampai ke angan – angan. Memang tidak salah jika setiap mendekati pilkada setiap orang berlomba – lomba berbuat baik, tetapi marilah kita cermati “ada batu dibalik uangnya”.
Pencitraan diri kini menjadi trend bagi penguasa kita untuk menarik simpati dari masyarakat. Simpati yang diharapkan berupa balasan dengan menjatuhkan pilihan kepada mereka. Kemunafikan yang terjadi sungguh membuat pemikiran kita semua rancu dan mata terbelalak dengan kenyataan yang berbeda dengan pemberitaan. Semua lini dan usaha mulai dimanfaatkan tanpa ragu menggunakan uang rakyat demi menarik simpati. Demi pencitraan diri puluhan unit handtracktor disimpan di kantor BD1 (bengkulu 1) dan kemudian disebar di hari yang dekat dengan pilkada. Provinsi Bengkulu ini terdiri atas 10 (sepuluh) kabupaten dan kota yang hampir kesemuaan akses perhubungan melalui jalan darat. Semua jalan di provinsi ini telah berlobang dengan banyaknya korban kecelakaan yang ada tidak membuat para penguasa kita tergugah dan tersentuh hatinya. Malahan pemerintah kita disibukkan dengan proyek – proyek yang tidak jelas dan dampaknya tidak menyentuh masyarakat kita.
Lagi – lagi kasus korupsi yang menimpa penguasa daerah ini membuat kita semua malu dan tidak merasa bangga dengan prestasi bejat ini. Sangat lucu jika seorang tersangka belum lagi dijebloskan ke bui dengan alasan perizinan yang rumit dan dengan adanya bekingan politik di atasnya. Padahal uang rakyat yang dicuri tidak tanggung – tanggung mencapai Rp. 4,1 M. Bayangkan jika semua warga daerah ini di belikan bakso satu mangkuk maka niscaya semuanya kebagian termasuk para keluarga rajanya. Entah apalagi misteri kebobrokan moral daerah ini bukan rahasia kalau perekrutan PNS (Pewaris Negeri Sejati) dijadikan ajang dagang sapi dan pelelangan ikan – ikan pemakan darah. tes CPNS yang di selenggarakan pemerintah bekerja sama dengan sebuah universitas terkemuka di negeri ini, tetapi jaminan ini tidaklah cukup karena universitas tersebut hanyalah nama pinggiran yang perjalanannya hanya kebohongan dan pembodohan masyatakat negeri ini. Kawal penyelenggaraanya harapannya adalah kerjasama yang dilakukan adalah benar – benar dengan universitas yang jelas. Dan yang benar adalah upaya kerja sama dengan universitas di daerah ini yang terbukti kompeten dan kapabel dalam kejujuran pelaksanaan perekrutan pegawai. Kalau ada yang lebih dekat dan baik, kenapa harus yang jauh dan tidak jelas.
Memang sangat mengerikan jikalau kita melihat fenomena yang terjadi di negeri kita saat ini. Para pemimpinys telah berada dalam lingkaran setan, dan mungkin tidak akan lepas dari lingkaran itu. Sebuah pemandangan menarik ketika melihat perutnya semakin membuncit, sedangkan perut rakyat sangat mengempis. Sungguh lagu yang indah ketika mendengar ucapan sang penguasa yang dengan gaya santunnya mengatakan ”saya dizolimi, pendemo tidak sopan dan anarkis”. Sungguh mengelikan dan semua terjadi karena mereka tidak sungguh – sungguh. Tetap semangat pesan dari para orator, kita merasa terpanggil untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran demi membenahi negeri ini. Tetap suarakan suara kita walau mereka tidak mendengar, tetap berAksi walau mereka tak berani menemui.
Lebih lanjut, pelayanan yang diberikan sangat jauh dari memuaskan. Sektor pendidikan yang selama ini menjadi sorotan utama pembangunanya tidaklah menampakkan pembangunan yang nyata baik fisik maupun mental pendidik dan peserta didik. Malahan semakin terpuruk dengan kasus – kasus yang melukai dan mencoreng nama daerah ini. Kasus bocornya soal UN (ujian nasional) bahkan pemberian jawaban. Bukan rahasia lagi kalau UN selama ini hanya dijadikan proyek populeritas dan ajang kebohongan demi nama baik daerah. Kebobrokan yang sistematis dilakukan oleh guru, pengawas, kepala sekolah, diknas, dan kepala daerah. Akibatnya pendidikan di provinsi ini semakin rendah kualitasnya dan peserta didik yang dihasilkan semakin bejat moralnya. Upaya sistematis ini diawali dengan intimidasi dari penguasa daerah dan ketakutan yang berlebihan dari guru maupun pihak lainnya jika banyak dari siswa yang tidak lulus ujian. Pembenahan ini tentunya harus dimulai dari komitmen dari semua elemen untuk ikhlas dan jujur dalam pelaksanaan tugasnya.
Sektor penting lainnya adalah kesehatan yang dirasakan rakyat selama ini tidak memadai, baik tenaga medisnya maupunfasilitas medisnya. Penguasa selama ini sibuk korupsi dan melupakan pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat. Selama ini pelayanan di Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lainnya di bawah standar kelayakan. Seperti tempat tidur pasien yang tidak layak, gudang obat yang tidak terawat, dan tidak lengkapnya peralatan medis.
Disintegrasi pemikiran masyarakat nampaknya sudah terjadi di daerah ini. Saat kampanye pemilihan kepala daerah masyarakat dengan antusiasnya mendengarkan janji – janji pembangunan dan pada akhirnya memberikan kepercayaannya berupa mandat menjadi pemeimpin mereka. Janji tinggalah janji, kenyataan tidaklah sesuai dengan harapan rakyat. Ketidak jujuran penguasa telah melukai hati rakyat. Pada problem ini misalnya janji akan dibangunnya pabrik di setiap kabupaten satu buah dan bersedia mengundurkan diri saat memerintah jika selama tiga tahun belum terealisasi janji politiknya. Ternyata itu semua hanya manis di bibir, tetapi busuk di hati.
Semua lini kehidupan di negeri ini telah tercemar. Dan perlu usaha yang keras agar pembenahannya berjalan dengan baik. Semua sumber daya harus dikerahkan dan dibebaskan dan dinetralisir dari berbagai kepentingan. Mari tuntaskan, lawan, dan kita bisa.

Category : | edit post

0 Response to "Hidup di Negeri “Sangka Raja”"

Posting Komentar

About Me

Followers